Orang Yang Selalu Merindukan Surga

Materi Dakwah Pilihan | Pertama-tama, marilah kita tingkatkan kualitas  iman dan taqwa kita  kepada  Allah SWT dengan senantiasa  berupaya  secara maksimal melaksanakan segala perintah-perintah-Nya. Dan pada waktu yang sama pula kita  dituntut untuk  meninggalkan apa-apa saja  larangan Allah  yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga  Sunnah  Rasul SAW. Maka  hanya  dengan  cara itulah, ketaqwaan kita akan mengalami peningkatan dan perbaikan.

Shalawat beriring salam semoga senantiasa di limpah-curahkan atas Baginda Nabi akhir zaman. Rasulullah Muhamma Shallallahu'alahi wasallam. Putra padang pasir yang mengubah wajah dunia membimbing umat manusia dengan wahyu dan akhlak mulia. Keteladanan yang tiada duanya.

“Wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim”, dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung, demikian pujian Sang Pencipta kepada makhluk termulia yang pernah diciptakan-Nya.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ  #   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw.” (QS. Al-Ahzab [33] : 56)
Kaum muslimin rahimakumullah...
Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah, beriman kepada Rasulullah dan beriman kepada hari akhir, pasti merindukan yang namanya surga. Ia merindukan surga bukan karena sudah merasa bosan hidup di dunia ini, atau karena ia sudah tidak tahan lagi  menghadapi kesulitan hidup di dunia ini. Akan tetapi, karena ia memahami dan meyakini betul, bahwa kehidupan yang hakiki dan abadi hanyalah kehidupan di alam surga.
Sebanyak apapun uang yang dimilikinya dan setinggi apapun pangkat dan jabatan yang disandangnya semasa hidup di dunia ini, tetap saja tidak dapat ia nikmati semuanya. Yang ia nikmati sebenarnya, tidak lebih dari apa yang telah ia makan dan ia pakai di dalam kesehariannya.
Uang yang melimpah di dalam rekeningnya, tanah dan kebun yang luas yang dimilikinya, rumah yang besar dan mewah yang dibelinya, kendaraan yang mahal yang diperolehnya, tetap saja hanya sebagai tumpukan-tumpukan harta yang secara formal memang adalah miliknya, namun ia tidak bisa menikmati semuanya, apalagi pada saat ia sakit atau sedang menghadapi sakaratul maut. Semuanya hanyalah bayang-bayang atau kepemilikan semu belaka. Hal inilah yang diperingatkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ
“Dihiaskan kepada manusia kecintaan syahawat berupa wanita, anak-anak, harta benda dari emas dan perak, dan kuda-kuda yang ditambatkan, dan binatang ternak, dan kebun. Semua itu hanya kenikmatan dunia semata, sedangkan di sisi Allah tempat kembali yang baik”. (QS. Ali Imran [3] : 14)

Seperti apakah orang yang merindukan surga itu...? Maka dapat kita lihat pada generasi Islam pertama; yaitu para sahabat Rasul SAW yang mulia, yaitu generasi terbaik yang pernah Allah lahirkan ke atas dunia ini. Setelah mereka masuk Islam, life style (gaya hidup) mereka, benar-benar berubah dari life style yang menjadi trend dan berkembang dalam masyarakat jahiliyah pada saat itu, menjadi life style generasi yang merindukan surga.

Semua pencapaian duniawi yang pernah mereka raih, baik sebelum masuk Islam maupun setelah masuk Islam, bukan lagi dianggap sebagai standar keberhasilan bagi mereka. Siapa yang tidak kenal dengan Siti Khadijah, Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Abdurrahman Bin Auf dan seterusnya?

Rasululllah SAW benar-benar berhasil mencetak mereka menjadi generasi akhirat dan pribadi-pribadi yang mencintai akhirat, meletakkan dunia ini di telapak tangan mereka dan merindukan surga, melebihi dari kerinduan mereka kepada ana-anaknya, kepada istri-istrinya, kepada hartanya, kepada kampung halamannya, serta tempat kelahirannya.

Bukti rindunya mereka kepada surga, Allah memberikan kepada mereka stempel “radhiyallahu ‘anhum” (Allah telah meridhoi mereka), padahal mereka pada waktu itu masih hidup. Tidak ada di balik keridhaan Allah itu melainkan surga, seperti yang difirmankan-Nya :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan orang-orang yang terdahulu (generasi pertama Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah telah meridhai mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Dia (Allah) telah menyiapkan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya bermacam-macam sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Demikian itu adalah kesuksesan yang amat agung (tanpa batas)”. (QS. At-Taubah [9] : 100)

Demikianlah orang-orang yang beriman. Ia sama sekali tidak tertipu oleh betapapun gemerlapnya dunia dan sebesar apapun dunia datang menghampirinya. Pandangannya terfokus hanya kepada surga. Kerinduannya yang mendalam kepada surga bersemi di dalam lubuk hati dan jantungya.
Di matanya, dunia dengan segala fasilitas hidup yang Allah anugerahkan kepadanya dan betapapun banyaknya harta, tidak lebih dari modal yang ia gunakan semuanya untuk membeli tiket ke surga.
Mereka bersegera dan berlomba-lomba meraih tiket tersebut dengan mengerahkan segala potensi yang Allah berikan kepadanya seperti, ilmu, harta, pemikiran, tenaga dan bahkan nyawanya sekalipun.
Pikiran dan perasaannya tertuju hanya kepada sebuah kehidupan yang hakiki nan penuh kebahagiaan, yaitu kehidupan di alam surga. Tidak sedetik pun waktu, ilmu, harta dan tenaga yang ia sia-siakan. Semuanya ia curahkan untuk mengejar kehidupan surga. Persis seperti yang Allah jelaskan dalam Al-Qur’an :
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)
133 - “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan Penciptamu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

134 - “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun diwaktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

135 - “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan dosa atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

136 - “Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”. (QS. Ali Imran [3] : 133–136)

Kaum Muslimin Rahimakumullah…
Itulah di antara karakter dan sifat orang-orang Mukmin yang merindukan surga, sehingga kita melihatnya sebagai orang yang sangat sibuk beramal shaleh dan memperbaiki keimanan dan akhlaknya. Tidak ada satu detikpun waktunya yang terbuang percuma.
Tidak satu ucapan pun yang keluar dari mulutnya yang sia-sia, apalagi yg bernilai dosa. Tidak ada satu senpun uang yang ia peroleh kecuali ia belanjakan di jalan Allah dan untuk hal yg bermanfaat bagi dirinya, bagi keluargnya dan masyarakatnya, bukan untuk ditumpuk-tumpuk dalam rekeningnya. Semua potensi yang Allah anugerahkan kepadanya ia arahkan untuk kepentingan akhiratnya demi mencapai surga yang ia rindukan.
Kaum Muslimin Rahimakumullah…
Maka, untuk sampai kepada pribadi-pribadi yang merindukan surga, ada beberapa hal yang harus tertanam dalam diri kita dan menjadi habit (kebiasaan) dalam kehidupan sehari-hari kita.
1. Meyakini akhirat itu dan sifatnya yg  kekal selama-lamanya.
Di sana hanya ada dua tempat kehidupan; surga atau nereka. surga yg memiliki kenikmatan yang tidak pernah ada tandingannya di dunia. Ia hanya diberikan kepada orang-orang yang bertakwa kepada Allah, sebagaimana Allah firmankan :
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan Penciptamu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali-Imran [3] : 133)
Sedangkan neraka dengan segala macam azab dan siksaannya adalah tempat tinggal bagi orang-orang yang durhaka dan yg membangkang kepada Allah dan para Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al-Bayyinah [98]: 6)

2. Mengenal dan memahami sifat-sifat surga dan neraka.
Mengenal dan memahami sifat-sifat surga, maka  akan mendorong kita bekerja keras untuk mencapainya. Apapun pengorbanan dan berapapun biaya untuk sampai ke sana, pasti dengan ringan dapat kita laksanakan. Hal ini digambarkan Allah dalam firman-Nya :
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ
Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran.
وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah [9] : 111)

Demikian pula, pengetahuan kita yang lengkap dan mendalam terhadap neraka, mendorong kita untuk menghindarinya dg sekuat tenaga, sebagaimana firman-Nya :
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ (37)
Laki-laki (orang-orang) yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang (terbelalak). (QS. An-Nur [24] : 37)

3. Mengenal dan memahami betapa remeh, betapa singkat dan kerdilnya dunia ini.
Seringkali kita terkecoh oleh dunia dengan berbagai kesenangannya. Hal tersebut dapat dilihat hampir semua konsentrasi baik itu pikiran, tenaga dan waktu kita berikan untuk meraihnya. Padahal sebanyak apapun penghasilan duniawi kita, tidak akan bisa dibandingkan dengan janji kebaikan yang akan Allah berikan kepada kita di surga kelak.

Apalagi faktanya, semua yang kita raih itu tidak bisa kita nikmati semuanya, kecuali hanya sebagian kecil saja. Dan celakanya lagi, bila keinginan-keinginan duniawi kita itu menyebabkan kita menjadi gelap mata, sehingga tidak mempedulikan lagi mana yg halal dan mana yg haram. Maka musibah dan bencana pun pasti akan mengintai kita.

Oleh karena itu, Allah SWT dan Rasul-Nya, selalu mengingatkan kita, agar kita tidak tertipu oleh dunia yang tidak seberapa dibandingkan dengan kenikmatan akhirat yang dijanjikan Allah kepada kita.
Kalaupun dunia Allah bentangkan kepada kita semuanya, haruslah kita jadikan sebagi biaya pembelian tiket kita ke surga. Bukan hanya dunia atau harta saja, bahkan nyawa kita sebagai anugerah dari Allah, harus siap kita korbankan di jalan Allah demi meraih surga yang dijanjikan-Nya. Allah menjelaskan :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10)
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11)
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12)
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar’’.(QS. Ash-Shaf [61] : 10–12)

Kaum Muslimin rahimakumullah….
Semoga Allah memelihara iman kita dan menjadikan iman kita ini iman yang melahirkan kerinduan kepada surga dan iman yang hidup dan mampu menggerakkan semua potensi diri dan harta yang Allah anugerahkan kepada kita untuk surga-Nya. Dialah tempat kita meminta dan Dia jualah tempat kita memohon perlindungan.

Semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di surga Al-Firdaus Al-A’la yaitu surga yang paling tinggi bersama Rasulullah SAW, para shiddiqin, para syuhada’ dan shalihin, sebagaimana Allah telah menghimpunkan kita di tempat yang mulia ini. Allahumma amin…

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو السميع العليم ……

***
PS: Jika sobat suka atau merasa bahwa artikel ini bermanfaat, tolong di SHARE melalui tombol Social Media (Faacebook, Twitter, Google+, dan Pinterest) yang telah kami sediakan.

Tidak lupa, Sobat juga bisa memberikan komentar atau pertanyaan seputar Materi Dakwah Pilihan dibagian komentar berikut ini. Saya selalu menyempatkan untuk membaca setiap komentar dan menjawab pertanyaan yang masuk. 
Kedua hal tersebut, akan membantu saya tahu topik apa yang bermanfaat dan berguna bagi sobat sehingga saya bisa mencari lagi informasi yang bermanfaat lebih banyak lagi. Terima kasih  :) 

0 komentar:

About | Contact | Disclaimer | Privacy Policy
Copyright © 2016 Materi Dakwah Pilihan